Just For You [PART 1]

just-for-youTitle: Just For You

Length: Chaptered

Shoot: 1 of ?

Author:  indahberliana aka Joo

Twitter: @indahberliana

Cast:

Choi Sookyung (OC)
Lee Donghae (SJ)
Choi Siwon (SJ)
Choi Sooyoung (SNSD)
Lee’s Family as Lee Donghae’s Family
Choi’s Family as Choi Sookyung and Choi Sooyoung’s Family
Eunhyuk (SJ)
Jessica Jung

Genre: Romance, Comedy, Family, Friendship (?)

Rating: PG+15
Disclaimer: Semua cast Super Junior oppadeul hanya milik Tuhan, eomma dan appanya, ELFs dan SM Entertainment. Begitu pula dengan Jessica Jung SNSD hanya milik Tuhan, keluarganya, SONEs dan SM Entertainment. Disini Siwon, Sooyoung seumuran ya, 22 tahun. Hargai kerjakerasku ini ya Chingudeul. Jangan diplagiat juga ya. Oh iya kalau ada kesamaan nama tokoh OC dan karakternya, aku nggak tahu apa apa.

A/N: Perkenalkan namaku indah. Ini ff debutku jadi maklumin ya kalo ada banyak kesalahan apa apa ehehe. Aku mohon sama kalian  untuk komen abis baca ffku dan ff author yang lain jugaa. Karena komentar sangat berarti untuk para author. Apalagi author baru kayak aku >_< kalo mau komen di twitter juga gapapa tapi lebih baik dua duanya ehehe #plak #mintalebihluthor. ini ff udah lama kesimpen di laptopku. oh iya, siwon bukan kakaknya sooyoung/sookyung disini. Disini Jessica bukan personel SNSD, Donghae, Eunhyuk dan Siwon juga bukan personel Super Junior. ini ff by the way panjang banget. Maaf ya kalo ceritanya ngebosenin dan banyak typo. Jangan lupa komen ya biar aku bisa memperbaiki jalan ceritanya dengan bagus, menarik. Gamsa!

Happy Reading! No Siders ok?! jangan plagiat ya.

Author’s POV

Malam itu, Sookyung sedang mengamati kakak perempuannya, Choi Sooyoung yang sedang pemotretan dengan seorang namja yang notabenenya teman mereka semenjak dari kecil dulu, Choi Siwon. Mereka tampak kelelahan. Setelah si fotografer mengatakan ‘break’, bukannya menghampiri kakaknya dan memberinya minuman, ia malah menghampiri Siwon yang sedang duduk dan ia duduk di samping Siwon.

“Siwon-ah! ini!” serunya sambil memberi minuman ion segar padanya.

“gomawo Kyungiee.” Jawabnya sambil mengacak-acak pelan rambut teman masa kecilnya itu. Sookyung yang dielus kepalanya tersenyum senang. Ya, seorang Choi Sookyung menyukai teman masa kecilnya yang hanya menganggapnya sebagai teman, hanya itu.

****

 

Sookyung’s POV

hari ini adalah hari dimana Sooyoung eonni dan Siwon menghadiri acara Festival Penghargaan yang terkenal di Korea. Ya, eonni dan Siwon adalah entertainer yang terkenal—menurutku, karena mereka masuk dalam nominasi Festival Penghargaan ini. Aku harus memberi semangat pada mereka. Terutama Siwon, namja yang kusukai dari kecil dulu hingga sekarang. Akupun pergi ke gedung tempat Festival Penghargaan itu diadakan memakai mini dress bermarna pink ke merahan tanpa lengan.

Sesampainya aku di tempat diadakannya acara Festival Penghargaan itu…
“SIWON OPPA! SIWON! SIWON! CHOI SIWON!” astaga. Jeritan di  luar gedung ini benar benar membuatku pusing. Aku langsung masuk ke dalam gedung itu. Setibanya, aku mengedarkan pandangan di kursi VIP, yaitu kursi yang dekat dengan stage. Kucari wajah namja yang kukenal. Aku sangat beruntung bisa mengenalnya. Siwon benar-benar populer. Fansnya sangat banyak.

“kau sudah datang?” suara itu membuatku menoleh ke belakang.

Aku melihat Siwon yang dengan tuxedo hitam. Benar benar aktor serba sempurna! Aku bisa meleleh melihatnya kalau dia tersenyum begitu pada fansnya—walaupun padaku selalu begitu juga. Lalu, Siwon menuntunku untuk duduk di sampingnya. “kau cantik malam ini. Ani, setiap hari juga cantik.” Aku menoleh padanya yang kini duduk disampingku, kulihat dia sampil mengelus dagunya  tanpa melihatku.

Dheg… “aniya, aku malu memakai dress mini seperti ini.” Aku berusaha untuk menutupi pahaku yang terbuka ini dengan dress pendek sialan ini. Sooyoung eonni yang memintaku memakai ini.

Festival Penghargaan tersebut dimulai dengan nominasi ‘Aktris Pendatang Baru 2012’, ya, sudah kuduga, Sooyoung eonni yang memenangkannya. Aku bahagia memiliki eonni sepertinya. Lalu dilanjutkan dengan nominasi ‘Aktor Pendatang Baru 2012’. Siwon tidak ada di nominasi tersebut, karena dia sudah dari awal umur 20 tahun sudah menjadi aktor dan sekarang umurnya 22 tahun. Sementara festival penghargaan ini diadakan setahun sekali. Kalian mengerti kan maksudku?

“Aktor pendatang baru2012, dimenangkan oleh…” Ucap Kim Taeyeon dan Tiffany Hwang—personel SNSD, yang mengumumkan nominasi ‘Aktor Pendatang Baru’.

Kulihat Taeyeon eonni sedang membuka amplop yang kuyakini isinya adalah nama dari salah satu nominasi tersebut.

“dimenangkan oleh Lee Donghae!!” seru Tiffany eonni.

Semua penjuru penonton yang ada di dalam studio ini bertepuk tangan. Seorang namja yang bernama Lee Donghae itu berjalan ke atas stage dengan balutan tuxedo putihnya yang membuat perhatianku tertuju padanya.

Kulihat Tiffany eonni menyerahkan piala penghargaan itu pada namja itu. kemudian namja itu menghampiri microphone. “Aku sungguh tak menyangka, bisa memenangkan nominasi ini. Jeongmal kamsahamnida untuk semuanya yang telah mendukungku. Appa, eomma, Eunhyuk hyung selaku manajerku, dan serta fans-fansku, jeongmal gomawoyo!”

Author’s POV

“The Best Actor 2012 dimenangkan oleh…” ucapan Park Jungsoo—MC yang membacakan nominasi itu. ia juga salah satu dari personel Super Junior.

“dimenangkan oleh Choi Siwon!” Siwon melihat Sookyung tersenyum. Iapun ikut tersenyum dan berjalan ke atas stage. Ia lihat yeoja itu memandanginya sambil tersenyum, ia ingin sekali memeluk teman masa kecilnya itu. lalu ia fokus pada langkahnya saat itu. ia harus hati-hati, jangan sampai salah tingkah karena melihat senyumannya, gumam Siwon dalam hati.

Lalu ia melihat Sookyung yang sedang merekam moment itu dengan ponselnya saat Siwon mengucapkan rasa terima kasihnya.

07.00 PM at Choi’s Home.

Keluarga Choi saat ini sedang merayakan kemenangan Sooyoung yang mendapat penghargaan dari salah satu nominasi Festival Penghargaan tersebut dengan makan malam spesial yang dihadiahkan eomma-appa mereka. Ya walaupun begitu, keluarga mereka sangat senang melihat Sooyoung yang semakin berprestasi di bidang yang ia sukai.

“eonni! Chukkae!” seru Sookyung sambil melahap makanan di piringnya yang ada di meja makan itu.

“ne, gomawo nae yeodongsaeng!” Sooyoung mengelus pelan puncak kepala adiknya itu.

“aku ingin sekali menjadi eonni! Bisa hebat seperti itu!”

“kalau kau ingin sepertiku, tidak mudah loh. Jadwal yang padat, kesana-kesitu setiap hari, merawat wajah. Sebenarnya sangat melelahkan, tapi aku selalu berusaha untuk yang terbaik karena selain membahagiakan keluargaku aku juga punya tujuan lain.”

“apa itu?”

“nanti kita bahas lagi ya. Ja! Aku sangat lapar! Jalmokgoseumnida!” seru Sooyoung yang langsung mengambil sumpitnya dengan lihai menggunakannya. Beginilah dia kalau sudah soal makanan, semua hal bisa ia lupakan. Tergantung masalahnya seberat apa.

Dia hebat kan? menjaga tubuhnya yang proposional itu pasti sangat susah, karena hobi makannya yang bisa kelewat normal itu.

Sookyung’s POV

“eonni, ayo lanjutkan yang di meja makan tadi! Aku penasaran tahu!” aku merebahkan diriku di kasur Sooyoung eonni yang empuk. Eonni yang duduk menyandar di kepala kasur itupun menjawabku hanya dengan dehaman sambil tersenyum.

“eonni! Jebaal! Aku juga ingin tahu. Ppalli.” Aku menyamakan posisiku seperti eonni. Lalu merebut majalah yang sedang ia baca.

“joha, akan ku katakan.” Dia mengambil majalahnya kembali dari tanganku. “sebenarnya hanya karena seorang namja,” kulihat eonni tersenyum malu.

“ditempat kami training, dia selalu saja tersenyum padaku. Dia debut lebih awal dibandingkan aku. Aku sudah menyukainya sejak aku masih kecil.” Sambungnya. Ah, aku baru sadar, ternyata ada hal lain yang dicintainya selain eskrim stroberiku yang selalu diembat habis tak bersisa ketika aku membelinya.

“ah, arasseo. Lalu namja itu siapa? Marhaebwaa eonni~yaa.”

“umm, aku tak ingin memberitahumu.”

“wae?”

“karena.. um yah aku hanya tak ingin memberitahumu. Aku malu!”

“haish, eonni, kenapa kau harus malu pada yeodongsaengmu sendiri?”

“anhi, aku tak bermaksud begitu, hanya saja kau mengen…”

Blam, matilampu. Kakakku ini phobia sekali pada gelap. Makanya aku tak mau sekamar dengannya saat kami masih kecil. Dia itu takmau mematikan lampunya saat tidur, sementara aku tak bisa tidur dengan lampu yang menyala. Tadi apa kata eonni? Aku me… apa? Haish, kalau sudah mati lampu begini, kakakku benar benar lupa apa yang akan ia katakan karena terlalu panik.

Akupun kembali ke kamarku ketika lampu sudah kembali menyala, kakakku tak mau aku tinggalkan sendiri dikamarnya dengan keadaan gelap gulita seperti tadi. Ckck.

****

 “Sookyung-ah. kau tak berniat jadi aktris?” tanya appa ketika aku hendak memakan sarapan sandwich buatan eommaku.

“umm, shireo appa. Aku tak mau. Kata eonni itu sangat melelahkan.”

“memang, tapi karena aku punya motivasi kuat, aku bisa menghadapinya.” Ucap Sooyoung eonni bangga.

At Kyunghee University

“Sica-ya!” seruku.

“yaaaaa Choi Sookyung! Aku merindukanmuu kau tahu itu?” ia memelukku erat.

“na do Sica-ya!” aku langsung menggandeng tangan Jessica untuk masuk ke kelas kami. Ya, aku dan Sica bersahabat baik dari SMA. Dia sangat baik walaupun cerewetnya minta ampun. Dia juga dekat dengan eonni-ku.

“oh iya, sampaikan salamku pada Sooyoung eonni ya atas piala penghargaannya!”

“baiklah akan kusampaikan, Sicachuu~”

“yaa! Jangan memanggilku begitu!”

“aah tapi aku ingin memanggilmu begitu Sica-yaa” kataku memelas sambil menggandeng tangannya erat.

“haish dasar manja. Kau tahu, kalau orang yang baru melihatmu pasti berpikiran kalau kau itu tomboy. Lihatlah pakaianmu. Selalu Jeans dan kaos. Kau tak bosan?” tuhkan, dia ngomel =_=

“aku hanya memakai baju yang nyaman untukku. Kau betah memakai rok sependek itu, Sica-ya?”

“eh? Wae? Manis bukan?” Sica tersenyum malu padaku ketika aku mengaggukkan kepalaku.

Memang, Jessica terlihat manis memakai apa saja.

****

From: Sooyoung eonni^^
Sookyung-aaah, sepulang jadwal kuliah kau langsung pulang ya!

To: Sooyoung eonni^^
baiklah eonniku yang manis! Aku sedang di perjalanan ke rumah
.”

Ada apa aku disuruh pulang cepat? Tak seperti biasanya. Sica yang saat ini mengendarai mobilnya dan aku menumpang di mobilnya. Karena tadi aku diantar Sooyoung eonni jadi aku tak bawa mobil.

“Sica-ya, tak apakan aku tak jadi kerumahmu? Aku benar benar disuruh pulang cepat. Otteokhe?”

“cheonma. Besok kan bisa.” Ia tersenyum, lalu aku memberinya eyesmileku. “aku ikut ya. sekalian bertemu Sooyoung eonni dan memberinya selamat.” Akupun mengangguk senang.

****

Teng tong…..

Akupun menekan bel rumah kami. Dan membuka pintunya ketika kuncinya sudah dibuka melalui intercom rumah kami. Aku kaget. Di ruang tamu ramai sekali. Eomma, appa, dan eonni yang duduknya menghadapku dan Sica yang masih berdiri dari pintu rumah kami. Sementara para tamu duduk membelakangiku.

“Anyyeong haseyo.” Aku dan Jessica membungkuk  900 ketika sudah berada disamping eomma dan appa.

“hyung, ini anakku yang kedua. Sookyung-ah, perkenalkan dirimu.” Kata appa.

“annyeong haseyo ajusshi. Jo neun Choi Sookyung imnida.” Aku membungkuk lagi. “dan ini temanku, Jung Sooyeon” Jessica langsung memperkenalkan dirinya.

“wah, neomu yeppeo, seperti kakaknya, cantik. Temanmu juga.” Ujar ajusshi itu.

“ah kenalkan Sookyung-ah, paman ini adalah Lee Donghyun dan istrinya, mereka sahabat appa dan eommamu saat SMA. anaknya baru kemarin memenangkan nominasi aktor pendatang baru.” Aku, yang sedari tadi duduk di sofa diantara Sica dan Sooyoung eonni menunduk, lalu ketika mencerna kembali kata kemarin memenangkan nominasi aktor pendatang baru’ aku terkejut dan mengangkat kepalaku.

“ye?”

“ah iya, perkenalkan Sookyung-ah. ini anakku. Donghae, perkenalkan dirimu.” Suruh ajushhi itu pada seseorang  yang duduk disampingnya.

“annyeong haseyo, Lee Donghae imnida.” Dia… namja itu? Kenalan entertainerku bertambah lagi! Kulihat dia tersenyum padaku. Penampilannya sekarang sangat berbeda. Dia terlihat lebih santai dan muda. Memakai kemeja hitam polos yang dua kancing kerahnya dibuka dan lengan panjangnya dilipat lipat hingga lengannya. Akupun membungkukkan badan singkat dan membalas senyumannya singkat.

Author’s POV

Jessica memperhatikan namja yang duduk diantara kedua orangtuanya itu, tepan dihadapannya dimana ia duduk. “tak kusangka bisa bertemu Lee Donghae secara langsung. Kyaa aku bisa gila!” gumamnya dalam hati. Ia melihat disampinya, Sookyung tersenyum setelah melihat Donghae. Jessica merasa… ada yang aneh pada dirinya. Entah apa itu.

Sookyung’s POV

Sore ini, aku berjalan di tepi sungai Han dengan namja itu. dia memakai topi dan masker untuk penyamarannya. Lucu sekali dia. Kamipun berbincang-bincang ringan mengenai pengalamannya di dunia entertainment. Tak biasanya aku seperti itu dengan orang yang baru kukenal.

“umurmu berapa?” lamunanku berhenti ketika Donghae memulai pembicaraan yang sempat terhenti.

“umm, 21 tahun. Kau sendiri?”

“22 tahun. Panggil namaku saja. Tak usah repot memanggilku dengan sebutan ‘oppa’. itu benar-benar menggelikan.”

“memangnya siapa yang ingin memanggilmu oppa? aku tahu kau tak mau di panggil oppa selain alasan itu karena kau tidak ingin merasa tua. Benar tidak?” aku tertawa pelan sambil melangkahkan kedua kakiku.

Kulihat dia, memandangku dengan tatapan tak percaya.

Akupun menunjukkan seringaian evilku. “haha kau marah?”

“ya!” serunya. Dia menyusulku yang jaraknya sudah 5 langkah didepannya. Dia melangkahkan kedua kakinya seirama denganku. “kau ini. Tak sopan.” Donghae mendecakkan lidahnya sambil melihat kakiku—menunjuk kakiku dengan dagunya.

“kenapa melihat kakiku?”

“ani, langkah kakimu lebar juga.” Aku tertawa mendengar jawabannya.

“ya! kenapa kau tertawa hah?”

“anhi, aku hanya tak mengerti kenapa kau tiba-tiba membicarakan langkah kakiku.” Ucapku yang masih tertawa kencang.

“ckck, akukan cuman bertanya.” serunya sambil melangkahkan kakinya menjauhiku.

“kau ini pemarah juga ya? ya! kalau kau seperti itu, semakin besar keinginanku untuk mengerjaimu, kau tahu itu?” aku menyusul langkahnya, memamerkan seringaian evilku padanya lalu tertawa melihat tatapannya padaku tak percaya.

“Ya Choi Sookyung!” dia mengejarku. Akupun lari menjauh darinya. Udara sore ini cukup dingin. Sedangkan aku lupa membawa jaket hoodieku.

“YA! sudah sudah berhenti! Aku lelah! Aku lelah!” aku berteriak masih berlari dengan nafas terengah-engah. Tiba-tiba saat aku berhenti mendadak, aku jatuh. Kalian tahu karena apa? Si Lee Donghae itu juga mengerem langkahnya mendadak, jadi aku terdorong kedepan olehnya. Aduh dagu dan lututku sakit sekali.

“Rasakan kau!” kulihat dia tertawa lepas sambil memegang perutnya.

Baru beberapa detik dia tertawa, sudah berhenti. Cih. Aduh daguku sakit.

“eh, chamkkam. Dagumu berdarah!” aku terkejut. Kugerakkan tanganku yang kotor karena menyentuh aspal dan sejurus kemudian ada yang menahannya.

“jangan, nanti terinfeksi.” Kupandangi dia yang sedang merogoh saku celananya untuk sebuat sapu tangan. Ia memberinya padaku.

“ini. Laplah lukamu. Maaf.” Kenapa wajahnya menjadi serius begitu? Aku ada ide!

Aku mengisakkan suaraku. Didalam hati aku tertawa setan mendengarnya.

Dia mengangkat kepalaku. Karena airmataku daritadi keluar dan akhirnya mataku memerah. Dan sedikit isakan seperti orang yang sedang flu, aku tambahkan agar dia benar benar yakin aku tidak bohong.

“ya! uljima! Kau payah!” aku mengencangkan lagi isakanku.

“ya! ya! berhenti menangis! Uljima! Sookyung-ah!” dia memanggilku apa tadi? Sookyung-ah? aku terdiam. Dia meraih saputangan yang belum sempat kusentuhkan pada daguku yang berdarah.

“AAKH! Appo!” dan aku yakin, sekarang aku menangis karena menahan sakit di daguku.

Kulihat dia, dia menatapku dengan tatapan khawatir. “miaan.” Sekali lagi dia menekan daguku agar darahnya meresap ke saputangannya.

“kau ini, sakit tahu! Baiklah, kuterima permintaan maafmu.” Ucapku angkuh.

Aku langsung bangkit dari dudukku dan berlari larian lagi seperti tadi. Aku menghapus air mataku dengan punggung tanganku sambil berlarian meninggalkannya. Dan sialnya. Aku tertangkap olehnya.

“Kau mau kemana lagi hah? Mati kau sekarang Choi Sookyung!” dia tersenyum evil dan menggelitikiku hingga kami berdua terjatuh di pinggir sungai Han. Kulihat banyak orang-orang yang berlalu-lalang menatap kami heran. Dia menggelitiki perutku! Hei! Daerah itu salah satu daerah sensitifku! Ah tidak! Geli! Aku benci ini!

Aku masih menggeliat diaspal karena Donghae tak henti hentinya menggelitikiku.

“tsk! Ya! ahah… AAAH yaaa! Lepaskaaan! Omo! Kau tidak malu hah?! Bagaimana kalau ketahuan?!” seruku yang masih digelitiki oleh Donghae.

“kau akan mati! Ahahahah!” dia tertawa setan. Membuatku bergidik ngeri. Dia juga bisa ternyata. Omona! Ini benar benar! AAAH geliii!

“AAAh yaa! LEE DONGHAE!! Hentikaaaaan! Kyaak… aaah omo ya! berhenti menggelitikiku!” astaga aku lelah. Dia tak mengampuniku rupanya.  Seketika aku meneriaki namanya, orang yang berlalu lalang melewati kami, terkejut. Kulihat Donghae sudah panik. Ia menghentikan aksinya.

Kujitak kepalanya habis-habisan. “LEE DONGHAE BABO!”

“ya! kau kenapa!? jangan coba coba kau mengataiku begitu lagi!”

Author‘s POV

Donghae membantu Sookyung berdiri dan merebahkannya di pinggir kasur Sookyung. Karena pada saat perjalanan pulang, ia tertidur. “aish berat sekali badannya” gumamnya. Ia duduk disamping Sookyungrtidur. Ia melihat keringat yang mengucur dari wajahnya.

“ah iya, lukanya.” Donghaepun bertanya pada eomma Sookyung dimana letak kotak P3K. Setelah itu, ia mengusap pelan luka yang ada di dagu Sookyung menggunakan kapas putih yang telah dicampur antiseptik, lalu memakaikannya plester berwarna kulit. Donghae sedikit kaget melihat Sookyung menggeliat dan memeluk guling disampingnya.

“kau ini benar benar, Choi Sookyung.” Ia langsung meninggalkan Sookyung sendiri di kamarnya.

****

 “Sookyung-aaaah! Turunlaah! Makan malam sudah siap!”

Sookyung terbangun dari tidurnya. “apakah tadi itu mimpi?” gumamnya sambil mengusap kedua matanya dengan kedua punggung tangannya. Dia merasa ada sesuatu yang menempe di dagunya. Ia melihat wajahnya di cermin, pasti eomma yang memakaikannya, gumam Sookyung. Ia menyadari kalo tadi adalah suara eommanya. Ia langsung turun dari ranjang dan memakai sandal rumahnya yang terdapat boneka kepala kucing kecil dia atasnya. Dia memang suka sekali dengan hal yang berbau kucing.

Ia turun dari tangga dan mencium aroma daging panggang. Dipercepat langkahnya agar sampai lebih cepat ke meja makan yang sudah dipenuhi hidangan lezat khas korea. Ia duduk disamping Sooyoung yang duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya.

“wuah, bulgogi? Eomma, kau benar benar baik!” seru Sookyung.

“eiii, itu jatahku! Kau, makanlah ikan ini. Sangat enak! Eh, dagumu kenapa?” Sooyoung langsung menarik piring yang hampir diraih Sookyung.

“eonni! Sudah kubilang aku tak mau ikan! Eomma!” teriak Sookyung tanpa menjawab Sooyoung.

“eomma! Lihat! Dagu Sookyung!” seru Sooyoung. Eomma mereka langsung menatap dagu Sookyung.

“eh, kenapa dagumu itu?” tanya eommanya. Sookyungpun heran. Bukankan eommanya yang memasang plester itu ke dagunya?

“luka tadi. Jadi bukan eomma yang memakaikannya untukku?”

“bagaimana eomma memakaikannya, eomma saja tidak tahu menahu tentang lukamu itu.”

“oh. Ah eomma! Aku tak mau ikan!”

“ya! Sookyung-ah. eomma sudah bersihkan tulang-tulangnya. Makanlah.” Eommanya meletakkan ikan matang yang dipotong kecil kecil terlebih dahulu tersebut ke mangkuk nasi Sookyung dengan sumpitnya.

“eomma, aku masih trauma. Aku tak ingin tenggorokanku…”

“haish, Sookyung-ah. kan eomma sudah bilang ikan ini sudah tidak ada tulangnya lagi.”

“tapi bagaimana tulang itu tak terlihat dan menyangkut di tenggorokanku lagi??”

“Choi Sookyung, baiklah. Ini.” Sooyoung yang tak tega melihat adiknya yang memiliki trauma pada ikan itu memakan hal yang dia takuti. Dia menawarkan piring yang berisi daging sapi panggang tersebut pada adiknya.

Sookyung menatap Sooyoung terharu, dia langsung tersenyum polos pada eonninya itu dan mengambil bulgogi itu dengan sumpitnya lalu dimasukkan sekali lahap pada mulutnya.

“ya! pelan pelan makannya!” seru appanya. Sookyung hanya berseru “Masshita!”

Sooyoung mengikuti adiknya setelah berseru “Jalmokgoseumnida!” keluarga bahagia itupun  makan malam dengan suasana bahagia tentunya. Walaupun Sooyoung seorang aktris, tapi dia masih sempat makan bersama keluarganya.

****

Sookyung’s  POV

Setelah makan malam, aku masuk ke kamarku dan mengecheck iPhoneku. Ah ada pesan masuk dari Sica.

From: Sica~chuu.
Ya! Choi Sookyung. Kau sudah makan malam?

“To: Sica~chuu.
Sudah! Eomma tadi memaksaku memakan ikan! Huh aku kesal! Tapi aku sangat terharu, Sooyoung  eonni  akhirnya memberiku bulgoginya. Aah masshita! Kau sudah makan malam?”

From: Sica~chuu.
Wah! Bulgogi? Ah aku jadi ingin makan bulgogi! Belum, tadi sore aku hanya makan ramyeon.

“To: Sica~chuu.
mwo? Hanya ramyeon? Kau sedang ada masalah ya? biasanya kau kalau ada masalah kau hanya makan ramyeon. Ada apa, Sica-ya?”

From: Sica~chuu.
aniyo, aku hanya ingin makan ramyeon saja. Oh iya, tadi pergi kemana dengan Lee Donghae?
” haish, kenapa dia menanyakan hal itu? ujung bibirku terangkat sedikit.

“To: Sica~chuu.
umm, haruskah kubilang?”

From: Sica~chuu.
tentu saja harus!

“To: Sica~chuu.
umm, dia itu menyebalkan! Daguku luka karena dia.”

From: Sica~chuu.
mwo? luka? Bagaimana bisa? Lalu?

To: Sica~chuu.
dia.. karena aku mengerem mendadak langkahku, dia juga ikut jatuh karena itu ah susah kujelaskan! Lalu dia menggelitiki perutku tanpa ampun di pinggir sungai Han. Kuulangi. Pinggir-sungai-han!

From: Sica~chuu.
MWORAGO?? Menggelitikimu di tempat umum seperti itu? dia tidak takut ketahuan oleh papparazi? Ya! itu salahsatu daerah sensitifmu. Lalu selanjutnya?

To: Sica~chuu.
memang. Aku kesal padanya. Cih, tampangnya saja yang polos tapi dia ternyata juga iblis.
” Aku tertawa mengetik pesan ini pada Sica.

From: Sica~chuu.
ya! haish Choi Sookyung. Kalau begitu berhati-hatilah padanya ^^

To: Sica~chuu.
mwo? Hati hati? Maksudmu?

From: Sica~chuu.
hmm, iya sebaiknya. Sebenarnya dia polos, tapi sepertinya sudah teracuni oleh teman baiknya itu yang sekaligus manajernya, karena  aku mengenal manajernya Donghae-ssi itu ^^ manajernya itu cerita padaku, Sookyung-ah.”
 Mwo? Aku membentuk bibirku menyerupai O.

“To: Sica~chuu.
Jadi kau mengenal Donghae?”

From: Sica~chuu.
tentu saja! Dia terkenal! Tapi tadi adalah pertemuan pertamaku dengannya. Setelah kutanya pada Eunhyuk oppa, sahabatnya itu, ternyata benar Donghae yang dia maksud adalah Donghae-ssi.
” Aduh maksudku bukan begitu Sica-yah. Sebodoh-bodohnya aku, aku juga tau dia itu terkenal.

“To: Sica~chuu.
jeongmal?? >o<. Baiklah. Sudah dulu ya. aku ingin menonton acara kesukaanku sama Sooyoung eonni. Mumpung  jadwalnya lagi kosong. Jaljayo!”

From: Sica~chuu.
Ne~!

Aku langsung turun ke ruang keluarga dan menyusul Sooyoung eonni yang sedang menonton sambil mengemil popcorn.

****

Author’s POV

Sinar matahari yang menyeruak begitu saja menembus jendela kamar Sookyung. Ia bangun dan duduk dari posisi tidurnya tanpa membuka matanya. Ia meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja kecil di samping ranjangnya. Ia mengusap kedua matanya, melihat banyak misscall di ponselnya. Nomer tak dikenal.

Lalu ia mencoba mengirim pesan singkat pada nomer itu.

maaf, anda siapa ya?” Sookyung mengirim pesan tersebut. Semenit kemudian, ponselnya bergetar lagi.

umm, kau tahu? Sebenarnya aku menyukaimu. Keundae, kau yeoja polos, dan aku namja mesum. Apakah kau mau menyukaiku juga?

“m… mwo?? Apa-apaan orang ini?” gumamnya kesal dalam hati. Karena Sookyung kesal, ia tak membalas pesan singkat orang gila tersebut.

Beberapa menit kemudian….

Ringtone ponsel Sookyung berdering. Ternyata, nomer asing itu lagi yang meneleponnya. Iapun me-reject panggilan tersebut. Tetapi, tak lama setelah ia me-rejectnya, ponselnya kembali berdering, selalu Sookyung reject tanpa melihat layar ponselnya. Sudah beberapa kali ponselnya itu berkicau-kicau, ia tak tahan lagi. Ia lepas paksa baterai ponselnya dan melemparnya sembarangan ke ranjangnya. Ia memilih untuk mandi dan setelah itu sarapan.

****

 “ya! Kembalikan ponselku!” namja yang memakai kaos biru tua polos dan jeans biru tua dengan tas punggung merah itu mengejar sahabatnya.

“mau apa kau? Kemarin kau sudah kalah taruhan denganku! Bayarlah sesuai dengan kekalahanmu, babo~ya.” ucap namja yang dikejar-kejar. Ia memakai kaos putih polos dan jeans hitam, dihiasi tas punggung coklat tuanya.

“ya! Lee Hyukjae! Awas kau!”

^^^^

Sookyung’s POV

“Sookyung-ah. astaga kau baru bangun? Kau tahu? Sekarang sudah jam 3 sore!”

“ehehe, kemarin aku begadang nonton… Mwo??!”kata-kata eomma tadi barusan mencekik leherku yang sedang turun dari tangga.

“MWO? jam 3!!???” pekikku.

“eo! Wae? Kau ada kelas hari ini?”

Tanpa dikomando, akupun kembali ke kamarku dan menyalakan ponselku yang mati tadi karena baterainya kulepas. Aku langsung melihat di ponselku banyak panggilan tak terjawab. Aku langsung menghubungi nomer itu.

“Siwon-ah! maaf aku baru bangun!”

Gwaenchanha. Kau masih mau ikut bersamaku?

“ye? Tapi apakah kau masih mau menungguku? Bahkan akupun belum bersiap siap.” Kataku panik.

ne. Aku baru menunggumu 15 menit, aku datang lebih awal. Kalau perlu aku menjemputmu ke rumahmu. Otte?” MWO?

“umm, baiklah. Mianhae, aku terlalu konyol, membuatmu menunggu lama karena telat bangun tidur.” sesalku mendesah pelan.

“yaa! Gwaenchanha. Kau sudah mandi kan? cepat ganti bajumu yang cantik ya!” huh, Choi Siwon. Kau selalu membuatku terbang, dan kau menghempaskanku begitu saja.

“baiklah. Sampai nanti.” Sambunganpun terputus.

Akupun segera membuka lemari pakaianku. Memilih baju yang mana yang cocok untukku. Haish, bajuku itu-itu semua. Kaos, jeans, kaos, jeans. Karena bingung, aku menghubungi Sica karena selera fashionnya itu benar benar memukau.

“yeoboseyo…”

“Sica-yaa. Aku belum cerita padamu ya?” potongku.

“tentu saja! Kau saja belum bicara apapun.” Jawabannya membuatku terkikik geli.

“jadi begini, kemarin, Siwon mengajakku jalan. Entah kemana aku akan dibawa. Dan entah kenapa pula aku menerimanya. Yang jelas aku sangat senang, walaupun sedikit gugup. Dan kau pasti tahu apa yang menjadi masalahku sekarang.”  Ucapku yang sedikit memelas.

“hmm ya aku tau. Aku akan langsung ke rumahmu sekarang.”

“ya! chamkkam!”

“tunggu aku”

“umm, baiklah. Ppalli~wa! Sebelum Siwon menjemputku kesini.”

“ne~”

****

“Sookyung-aaah. Buka pintunyaa.” Aku tahu. Itu pasti Jessica. Kenapa lama sekali?

“kau buka saja sendiri. Tidak ku kunci kok.” Aku malas membukakan pintunya. Aku sedang tiduran di karpet bulu ini karena stress memikirkan hal yang bisa disebut ‘kencan’ itu.

“ppalli!! Ya! aku kerepotan nih!” pekik Sica yang membuatku tambah stres dengan pekikkannya dengan oktaf  nadanya yang tinggi itu.

Haish, kenapa sih dia? Repotan siapa dibanding aku? Akupun membuka pintu dan…

“YA! JUNG SOOYEON!”

Orang yang kuteriaki hanya tersenyum polos bak anak kecil yang sehabis mengerjai kakaknya.

“ini kulakukan semua hanya untukmu, Choi Sookyung.” Lanjutnya. Ia tersenyum childish.

Aku benar benar terkejut melihat dia membawa setumpuk pakaian dengan hanger—atau lebih tepatnya dress diatas lutut dan tanpa lengan pastinya, seperti seorang asisten aktris yang sibuk ini dan itu. astaga Jessica, kau…

“kau mau memulainya dengan mencoba yang mana?” dia tersenyum senang seperti anak kecil yang habis diberi permen.

Akupun mendesah pelan. “tapi tak separah ini juga, Jung Sooyeon.” Aku tak menjawabnya dan kutatap matanya tajam.

“ya! tapi semua inilah yang kau perlu pakai untuk kencanmu bersama Choi Siwon! Ingat, dia itu ak-tor-ter-ke-nal! Jangan membuatnya malu! Ara? Ikuti saja aku! Jebal!” dia menarik tanganku dan memberi semua dress miliknya itu dan menyuruhku mencoba semuanya di kamar mandi.

Sesampai di kamar mandi. Mataku rasanya mau keluar dari tempatnya. Sungguh, dia menyuruhku  mencoba memakai 9 dress. Aku mencoba dress pertama, Jessica yang duduk diranjangku hanya menggeleng. Kucoba dress kedua, reaksinya begitu juga. Sampai di dress ke 5, Sica mengacungkan kedua jempolnya padaku.

“dress ini cocok sekali! Ya! coba kau gerai rambutmu itu sekali-kali.” Serunya. Kuperhatikan kembali dress soft pink yang di ujung kerah dan ujung roknya terdapat manik manik kecil yang melekat pada tubuhku ini.

Aku menyentuh rambutku yang kuikat asal asalan ini. “Shireo. Gerah!”

Jessica hanya menghela nafas dan menghampiriku dan berdiri dibelakangku. “kau ini. Kau akan berkencan dengan seorang aktor, kau tahu? Jadi jangan sia-siakan kesempatanmu kali ini. Banyak yang ingin sepertimu! Buat dia menyukaimu juga, Sookyung-ah.”

Sica menuntunku untuk duduk di ranjang sementara dia membenahi rambutku, menyisir, dan menata rambutku dengan peralatan tata rambut yang ia bawa tadi. Setelah selesai, dia menuntunku untuk melihat ke cermin yang ada dikamarku.

“lihatlah, kau begitu cantik, Sookyung-ah.” Sica tersenyum .

“ah…!” seruku padanya dengan mata yang berbinar binar. Tentu saja aku senang! Aku terlihat cantik dengan rambut hitamku yang dibuat lebih bergelombang dibandingkan biasanya.

“tunggu! Baru rambutmu saja ditata begini sudah cantik, apalagi kalau kau ku makeup ya? aku mempunyai sahabat yang cantik akhirnya!” seru Sica. Kupandang lagi wajahku yang belum tersentuh make up sama sekali. Jessica langsung  membuka tas ala wanita yang mempunyai selera fashion yang tinggi itu dan mencari barang yang ia maksud.

Dia memberiku entah apa, yang jelas berwarna bening dan cair. Ditepuk tepuk pelan pipiku dan dahiku lalu mengusap pelan dagu dan hidungku. Sensasinya dingin dan sejuk.

“menghadap padaku.” Suruhnya. Akupun membalikkan badanku padanya. Kami berdua duduk di ranjangku dengan menyilangkan kakiku.

“sekarang aku akan memakaikanmu eyeliner. Tutup matamu.” Akupun menutup mataku. Sepertinya dia semangat sekali mendandaniku, ani, tepatnya meng-makeover-ku.

“ja! Sekarang aku akan memakaikanmu lipgloss pink ini.” Sesuatu yang lembab dan lengket menyentuh bibirku. Ya, lipgloss, aku resah memakai benda itu.

“tadaa!! Lihatlah, kau cantik sekali, Choi Sookyung!” aku melihat wajahku di depan cermin. Astaga. Apa benar ini aku?

“gomawo, Sica eomma!” seruku. Tangan Sica yang sedaritadi merapihkan rambutku berhenti ditempat. “mwo? apa yang kau bilang tadi barusan?” ucapnya dengan tatapan tak percaya.

“iya, bagiku kau adalah penolongku ketika aku susah. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu, Sica eomma!”

Kulihat Sica tersenyum setelah mendengarku. “ne, cheonma, Sookyung-ah.”

“kkeut(selesai)! Benar katamu, lebih rapi dan manis. Baiklaah…” belum selesai Sica berbicara, teriakan Sooyoung eonni dari lantai bawah memekikkan telingaku.

“Sookyung-ah! Siwon disini! Cepat turun!”

Kulihat Sica tersenyum kembali. Dia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya “Hwaiting, Sookyung-ah! have a nice date!” aku membalas senyumannya. Lalu mengajak Sica turun bersamaku juga. Aku siap menanggung resikonya, yaitu keterkejutan eomma, dan Sooyoung eonni. Ah! ditambah Siwon? Mati aku.

“neo… Ya! kau apakan adikku, Sica-ya?” Sooyoung eonni yang baru pulang dari jadwal pekerjaannya yang padat.

“dia cantikkan eonni? Siapa dulu yang mendandaninya?” Jessica membanggakan dirinya.

“neomu yeppeo, Sookyung-ah.” Siwon… mungkin wajahku berubah warna menjadi merah sempurna sekarang.

“ja! Kita pergi sekarang. Kaja!” Siwon menghampiriku lalu kami berdua pamit dari rumah. Kami pergi menggunakan mobil Hyundai Veloster birunya. *yang nonton City Hunter pasti tau. Mobil yang sering dipake Lee Minho di situ.”

****

Author’s POV

Yeoja itu seperti kehilangan semangat. Namja yang ia cintai sepertinya menyukai yeoja lain. Ia sedih. Ia yang masih duduk di meja makan itupun pergi ke kamarnya. Tapi sebelum itu dicegat oleh eommanya.

“kau tak apa?” tanya sang eomma yang sebenarnya tahu masalah anaknya itu tanpa sepengetahuan anaknya.

“gwaenchanha eomma.”

“eonni, ahjumma, aku pulang dulu ya. tugasku sudah selesai! Annyeonghi kyeseyo.” Pamit seorang yeoja berambut coklat tergerai itu yang muncul dari tangga yang berhadapan dengan meja makan.

****

Sookyung melirik ke arah kirinya, dimana seorang Choi Siwon, namja yang hingga kini masih ia sukai mengendarai mobilnya. Siwon yang memakai kemeja kotak kotak berdominasi warna putih, coklat muda dan hitam, dengan dua kancing kerang yang terbuka dan lengan panjang yang dilipat hingga sikut. *liat Siwon di MV No other*

“kau kenapa memperhatikanku terus, Kyungie-ya?”mendengar suara Siwon, Sookyung terkejut bukan main. Ditatapnya Siwon tajam karena ia kesal.

“anhi, aku tak memperhatikanmu. Aku hanya ingin tahu, kau kenapa mengajakku jalan-jalan di jadwalmu yang super padat? Ke mana kita akan pergi?”

“umm, kau mau kita pergi ke mana?” tanyanya sambil melihat sekilas ke arah Sookyung sambil menyetir.

“molla, kau ini bagaimana sih? Kau yang mengajakku tapi kenapa aku yang menentukan kemana kita akan pergi?” Sookyung menutupi perasaan gugupnya dengan mengomel pada Siwon. Siwon yang mendengar Sookyung tertawa pelan.

“bagaimana kalau kita pergi ke…”

“kau yakin pikiran kita kali ini sama kan?” Sookyung mendelik pada Siwon. Siwon mengangguk mantap dan menancapkan gas mobilnya untuk pergi ke tempat yang dimaksud.

Mereka sudah sampai di tempat tujuan Siwon. Yaitu taman bermain yang dulu mereka sering kesitu untuk bermain. *taman yang dimaksud tuh taman yang sering dikunjungin Gong Ahjung sama Hyun Sanghee di Lie To Me*

“kenapa disini? Katanya sama dengan tempat yang kumaksud. Bagaimana nanti kau ketahuan fansmu? Bisa-bisa aku dibunuh fansmu.” Gerutu Sookyung.

Sookyung mengibaskan tangannya untung memberi angin sejuk pada lehernya yang bercucuran keringat. Siwon yang sudah lengkap dengan alat penyamarannya itu mendelik ke arah Sookyung.

“aku ingin membuatnya lebih lama.” Sookyung mendelik bingung pada Siwon yang kini sudah duduk di ujung seluncuran di taman itu. Sookyung duduk di ujung seluncuran yang satunya lagi, jaraknya hanya beberapa langkah dari samping Siwon.

“mwo?”

“anhi. Lupakanlah.” Siwon lumayan gugup melihat perubahan penampilan Sookyung saat ini.

Diapun mendekati Sookyung. Berjongkok sambil melap keringat yang bercucuran di wajah yeoja cantik itu dengan saputangannya. Siwon terkejut saat melihat plester yang menempel di dagu Sookyung. Sookyung kaget melihat Siwon karena Siwon menyentuh lukanya.

“appo!”

“mian, tapi dagumu kenapa?”

“ani.”

Siwon kembali mengelap keringat Sookyung.

“Gomawo.” Ucap Sookyung sambil tersenyum tulus.

Siwon’s POV

Entah mengapa dalam jarak sedekat ini aku merasa sangat nyaman, sangat hidup. Seperti, beban hidupku selama ini langsung menghilang ketika melihat senyumannya. Aish! Pikiran gila macam apa ini?! Dia itu hanya teman masa kecilku, tidak lebih! Tapi, mengapa makin hari ia terlihat makin cantik saja? Ingin rasanya kusentuh bibir mungilnya itu. Aish! Aku sudah gila sepertinya. Ya, gila karena wanita yang selalu menemani hari-hariku sejak dulu, yaitu wanita yang ada di hadapanku saat ini.

“wae? Siwon-ah? Ya!” ucapnya saat aku mulai mendekatkan wajahku padanya. Aku tahu ini tindakan tergila yang pernah aku alami.

Aku melihat wajahnya yang memerah sambil menutup matanya. Dia sepertinya sangat gugup. Aku tertawa melihat ekspresinya yang seperti itu.

Dia mengangkat kepalanya ketika aku berdiri. “YA! CHOI SIWON!” aku tertawa melihatnya seperti ummm, berharap dicium denganku.

“kau ingin kucium ya?”

“mwo? cih, sayangnya tidak, Choi Siwon.”

Akupun meraih pinggangnya dengan cepat. Dia kaget, dia menundukkan kepalanya. Aku menundukkan kepala dan mencium pipi kanannya kilat.

“……”

Sookyung’s POV

Omona… mengapa dia mendekatkan wajahnya padaku? Aish! Apa apaan dia ini? Teruslah membuatku terbang setinggi-tingginya, Choi Siwon. Kakiku akan berusaha untuk tetap berada di atas tanah ini.

“wae? Siwon-ah? Ya!” kuusahakan membuat suaraku lebih datar dan tenang. Tapi.. yah pasti kalian tahu tindakanku itu pasti tak akan berhasil. Karena kalau aktingku kuperlihatkan  didepannya, semuanya akan gagal.

Aku mendongakkan kepalaku dan dia melihat wajahku yang sepertinya memerah. Aish jinjja! akupun menutup mataku…. spontan.

Tak ada hembusan nafas di hadapanku. Akupun mendongakkan kepalaku dan melihat Siwon sudah berdiri didepanku. “YA! CHOI SIWON!” dia hanya tertawa melihatku seperti ummm, berharap dicium dengannya. Omona~ dia salah paham! Eh.. .entahlah…

“kau ingin kucium ya?”

“mwo? cih, sayangnya tidak, Choi Siwon.”

Aku kaget ketika dia tiba meraih pinggangku dengan cepat. Aku menundukkan kepalaku. Aku sangat malu dilihat banyak orang dengan posisi seperti… ciuman.. KYAA! Betapa mesumnya otakku ini!! Tiba tiba.. aku merasakan kecupan kilat di pipi kananku. Mwo??

“……”

“sudah senang?” aku mengangkat kepalaku menatapnya kaget setelah mendengar kata-katanya barusan.

“mwo?” ucapku dingin. Mencoba untuk meredupkan kekesalan—hmm mungkin kesenanganku, di depan dia.

“kau mau melihatku dibunuh fans-fansmu yang tahu bahwa kau sekarang sedang mencium seorang yeoja?” ketika kuucapkan itu, dia sedikit menjauh dariku. Kalian tahu, dia melakukan apa padaku setelah itu? dia menyentil dahiku.

“APPO! CHOI SIWON!!” teriakku.

****

Malam ini, keluargaku menyuruhku ‘berpartisipasi’ di acara makan malam di rumah Donghae. Ah, aku masih teringat dia menggelitikiku. Cih, menyebalkan. Ada yang ingin tahu kenapa aku jadi kesal padanya? Dia menyentuh salah satu bagian tubuhku yang sensitif, kalian tahu itu kan? perutku digelitiki olehnya.

“ya, Sookyung-ah, kenapa kau melihat makanannya saja? kau mau membuat makanan yang sudah susah susah dibikinkan Lee ahjumma ini menjadi dingin sia sia? Makanlah.” Suara appa menyadarkanku dari pandangan kosongku pada makanan ini.

“ah ye, mianhae.” Aku langsung mengambil sumpit yang terletak disamping mangkuk nasi. Kulahap makanan itu lama karena tak nafsu.

“ya, makan makanan itu. bukannya kau suka bulgogi?” kutahu suara ini. Suara namja yang berani menyentuhku. Aku meliriknya dingin. Berusaha menunjukkan ekspresi marahku padanya. Kulihat dia bergidik ngeri melihatku seperti ini.

Sebenarnya aku ingin sekali menjawab kalau “aku sangat suka sekali bulogi tetapi kalau melihat mukamu aku jadi jijik melihat bulgogi itu” tapi aku takut menyinggung Lee ahjumma. Maka kuurungkan niatku itu. akhirnya aku melahap semua makanan itu.

_____

Author’s POV

Setelah makan malam itu, dua pasangan sedang berbincang di suatu ruangan di kediaman Keluarga Lee yang pasti hanya diketahui oleh mereka berempat.

“Myunghae-ah, bagaimana rencana kita? Jadi tidak? Kasihan aku pada kakaknya, namja yang ia sukai itu menyukai adiknya sendiri.”

Tak lama setelah yeoja yang hampir berumur setengah abad itu mendapat hadian jitakan dari Choi Jungsoo. “kau ini apa apaan? Kau pilih kasih ya pada anakmu sendiri?” walaupun umur mereka yang menjelang setengah abad, mereka tetap sama seperti jaman mereka seumuran anak mereka itu.

“yeobo, bagaimana menurutmu? Aku juga ingin mereka berdua bersatu.” Bujuk yeoja yang bernama Myunghae itu pada suaminya.

“Jungsoo-ah, kau bagaimana? Kalau aku sih sangat menyukai anak keduamu itu agar menjadi pendampingnya nanti. Ah senangnya.” Ujar Myunghee pada Jungsoo. Jungsoo, Siyoung, dan Myunghae adalah teman seangkatan pada saat mereka SMA dulu. Sementara Donghyun adalah kakak kelas mereka yang kebetulan jatuh hati pada Myunghae.

“baiklah aku setuju. Oh ne? Yeobo maksudmu tadi Sooyoung menyukai siapa?” tanya Jungsoo pada Siyoung.

“aku tahu kalau dia menyukai Siwon, oppa.” jawabnya.

“mwo? Siwon? Kau.. sejak kapan kau tahu kalau ia menyuka Siwon?” tanya Jungsoo.

“sejak ia bercerita padaku tentang namja yang ia sukai di masa kecilnya dulu saat ia sudah SMP. Dia tidak memberitahuku siapa namja itu, tapi dengan polosnya dia menjawab namja itu teman masa kecilnya. Tentu saja aku tahu kalau itu Siwon.”

“jadi bagaimana? Sepakat tidak? Mendekatkan anak kita masing masing secara diam diam dan membuatnya saling mencintai? Otte?” tanya Myunghae sambil berteriak saking semangatnya. Donghyun yang ada disampingnya langsung menjitak jidat istrinya itu.

“sepakat!”

-TBC-

Gimana ending part 1? maaf ya kurang ngegreget, maklumin aku author baruu. terus maaf juga ffnya abal banget x_x. komen yaa. buat aku semangat buat nulisnya yang pengen baca lagi *gaada yang baca*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s