Just For You [Part 3]

just-for-you

Title: Just For You

Length: Chaptered

Shoot: 3 of ?

Author: Indah Berliana Fayen

Twitter: @indahberliana

Cast:

Choi Sookyung (OC)
Lee Donghae (SJ) as Lee Donghae
Choi Siwon (SJ) as Choi Siwon
Choi Sookyung (SNSD) as Choi Sookyung
Lee’s Family as Lee Donghae’s Family
Choi’s Family as Choi Sookyung and Choi Sookyung’s Family
Eunhyuk (SJ) as Lee Hyuk Jae/ Eunhyuk
Jessica Jung (SNSD) as Sica/ Jung Sooyeon

Genre: Romance, Comedy, Family, Friendship (?)

Rating: PG+17

Disclaimer: Semua cast Super Junior oppadeul hanya milik Tuhan, eomma dan appanya, ELFs dan SM Entertainment. Begitu pula dengan Jessica Jung SNSD hanya milik Tuhan, keluarganya, SONEs dan SM Entertainment. Tapi jalan ceritanya PUNYAKU. Disini Siwon, Sookyung seumuran ya, 22 tahun. Hargai kerja kerasku ini ya Chingudeul. Jangan diplagiat juga ya. Oh iya kalau ada kesamaan nama tokoh OC dan karakternya, aku nggak tahu apa apa.

A/N: Perkenalkan namaku indah. Ini ff debutku jadi maklumin ya kalo ada banyak kesalahan apa apa ehehe. Aku mohon sama kalian  untuk komen abis baca ffku dan ff author yang lain jugaa. Karena komentar sangat berarti untuk para author. Apalagi author baru kayak aku >_<  dan di part ini mulailah kehidupan Sookyung sebagai seorang istri. Hihi^^ enjoy please. Dan jangan jadi siders ya! gomawo.

PREVIEW…

“Donghae-ah, ireonaa.”

“Hae-yaa. Ireonaaaa.” Akupun mulai mengguncang-guncangkan bahunya.

“hae-yaaa IREO….” dia menarik pinggangku! Dan sekarang aku berada di… atasnya.

“kau mau ‘menyerang’ku ya? kata Sookyung, kau ini polos. Apakah ciuman di altar kurang memuaskanmu?” KAU GILA, LEE DONGHAE.

“MWO!!? Lepaskaan akuu!” rengeku yang masih di atasnya. Dia memegang pinggangku erat. Lalu dia mengelus rambutku sambil memelukku, posisi kami masih sama seperti yang tadi. Ya Tuhaan. Jantungku berdebar kencang sekali. Apakah terdengar olehnya? Oh Tuhan!!

“kurasa aku mulai menyukaimu. Kau bagaimana?” JLEB, kurasa jantungku akan meledak sebentar lagi.

“eo? Museun mariya?” kuyakin wajahku sudah memerah.

Dia tiba-tiba membalikkan posisiku yang tadinya diatas sekarang ada dibawahnya.

“lihat, mukamu memerah.” Dia menyentuh daguku. Aku tak bisa berkata apa-apa saat ini. Aku sungguh mau mati sekarang!

“bekas lukamu sudah hilang. Syukurlah.” Dia tersenyum melihatku. Senyumannya itu… “ah, aku ngantuk.”

Dia tiba-tiba bangun dan menuju ke kamar kami. Aku terduduk dari posisiku sebelumnya. Aku memegang dadaku dengan kedua telapak tanganku. Berdebar kencang sekali. Astaga, baru kali ini aku berdebar seperti ini. Bahkan dengan Siwon—yang kusukaipun aku tak pernah kelewat berdebar seperti ini.

ASTAGA!

AKU… JATUH CINTA???

****

Author’s POV

Sookyung masih memegang dadanya yang kelewat berdebar di sofa hijau itu. Donghae yang sedang berjalan menuju ‘kamar pengantin’nya itu berhenti dan membalikkan badannya 1800 .

“oh iya. masalah kita sekarang ialah tempat tidur. Bagaimana?” tanya Donghae yang masih berada di posisi berdirinya melihat punggung Sookyung dari belakang.

molla…” gumam Sookyung dalam hati.

“ya~ eotteokhe? Ranjangnya hanya ada satu. Jawablah. Keputusannya kau saja yang ambil. Aku mengantuk. Kalau kau diam, aku tidur di ranjang.” Donghae kemudian meninggalkan Sookyung yang masih dilanda milyaran kebingungan di otak dan hatinya. hatinya mengatakan bahwa Sookyung jatuh cinta, tetapi seluruh sel otaknya menentang semua apa yang dikatakan oleh hatinya. Dia tidak menghiraukan apa yang Donghae bicarakan tadi. Ia hanya mendengar kalimatnya yang menyatakan keputusan untuk tidur seranjang atau tidak berada ditangannya.

“apakah benar aku jatuh cinta? Aku takut menyukai seseorang secara sepihak, seperti yang kualami pada Siwon. Tapi, tadi dia bilang, dia menyukaiku? Benarkah aku tidak salah dengar?” gumamnya yang masih memegang dada kirinya.

Akhirnya Sookyung mengakhiri kebingungannya dengan bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya. Kamar? Ya, Sookyung telah memutuskan untuk tidur bersama Donghae—si Aktor pendatang baru terkenal.

Sesampainya di kamar, ia menghela napasnya beberapa kali, menghilangkan kegugupannya. Ia mulai menaiki ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai dadanya. Ia berdoa semoga tak terjadi apa-apa.

Sinar matahari menembus jendela kamar sepasang pengantin yang bernama Lee Donghae dan Choi Sookyung. Sookyung terbangun dari tidurnya karena ada seseorang yang menggeliat memeluk guling yang ia peluk saat ini. Dan ketika membuka matanya perlahan-lahan, di depannya, ternyata Donghae yang memeluk gulingnya. Ia berusaha menarik kembali gulingnya dengan kasar tetapi tak ada hasilnya. Ia menyerah. Lalu ia melihat Donghae yang memeluk gulingnya dengan manja.

“seperti anak kecil saja. Aishh.” Gerutu Sookyung. Seketika Sookyung menyipitkan matanya ketika melihat sesuatu yang tak pernah mungkin Donghae perlihatkan pada media massa! Ia memasukkan ibu jari tangan kanannya dengan manja. Sookyung menggerutu kesal. “ kenapa aku memiliki suami seperti ini?? Kau sudah gila, Choi Sookyung.”

Tetapi, Sookyung bukannya membuang mukanya, ia malah tetap menatap Donghae yang ‘berpose’ seperti itu. ia tersenyum, senyum nakalnya dicampur dengan senyuman yang entah kenapa bisa menyunggingkan sudut bibirnya itu. ia merasa senang dan tenang melihat Donghae tertidur seperti itu. karena tak mau menyia-nyiakan ‘pose’ itu, ia mengambil iPhonenya dan membidik gambar Donghae.

Saat bidikan kedua, ia melihat Donghae—dari kamera ponselnya, tersenyum setelah melepaskan ibu jarinya itu dari bibirnya. Sookyung pun terbawa suasana saat senyuman itu muncul dari bibir suaminya. beberapa detik kemudian, ‘roh’ nya masuk kembali ke tubuhnya dan membidik kembali beberapa gambar Donghae yang sedang tersenyum.

Setelah itu, ia bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar untuk membuat sarapan pertamanya dengan Donghae.

Donghae’s POV

Entah dimana aku berada sekarang, tempatnya seperti… lokasi syuting? Terdapat beberapa kamera dan lighting. Syuting yang tempatnya berada di sebuah kamar. Kamar? Aku mau tahu siapa aktris dan aktor yang akan mengambil take. Dan kalian tahu aku menjadi apa di lokasi syuting tersebut? Sutradara? Aneh. Sesaat kemudian ada seorang wanita berambut panjang dan memakai… handuk? Astaga? Apakah ini film yadong?? Aku tak mau dan tak akan pernah menyutradarai film seperti ini!! Eh… tunggu! Aku sepertinya kenal dekat dengan wanita ini. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang umm… putih bersih bak porselen. Lalu muncullah aktor yang SA-NGAT ku kenal! Choi Siwon, dengan kemeja yang jauh dari kata rapi. 3 kancing terbuka, dasi acak acakan dan rambut yang biasanya kulihat rapi, kini berantakan. Entah kapan aku menyeru ‘action’, Siwon dan aktris itu mulai berakting dan suasana dalam kamar itupun hening. Kalian tahu, aktris itu mendekat pada Siwon dan memeluknya. Aku kaget saat Siwon menghirup bahu si aktris. Dan.. sebenarnya aku malu menceritakannya. Aktris itu mem-bu-ka kemeja Siwon!! Siwon… sepertinya setan-setan sedang betah hinggap di tubuhnya. Saat aku menyeru ‘Cut!’ mereka berhenti berakting. Kulihat aktris itu hendak membalikkan badannya, mimpiku berakhir!

Aku menyipitkan mataku karena sinar matahari yang begitu terang menyinari kamarku. Karena mataku belum fokus, aku meraba-raba ranjang, mencari-cari apakah ada orang yang tidur di sampingku. Ternyata tidak ada. Aku mengusap mataku tak sabaran. Apakah Sookyung tidak tidur disini semalam? Akupun keluar dari kamar dengan penampilan acak acakan ala orang yang habis bangun tidur. Kudapati Sookyung sedang melakukan sesuatu di dapur. Aku menyusulnya dan melingkarkan kedua tanganku di perutnya dari belakang.

“morning!” seruku. Tapi, tak ada balasan darinya.

“ya! kau ini mengagetkanku saja!” kudengar dia seperti gugup.

“kau sedang apa?” tak lupa aku memasang senyumanku.

“kau tidak lihat ini? Aku sedang membuatkan susu untuk sereal ini.” Dia menjawabnya sambil menunjukkan mangkuk merah berisi sereal coklat.

“sereal? Kenapa sereal? Kenapa tidak sandwich? Roti bakar? Pokkeumbab (nasi goreng)?”

“aish, yang masih untung aku bawa sereal ini kemarin. Bahan-bahan makanan belum sempat kita beli kan? Kau ini cerewet ya ternyata.” Seketika aku mendaratkan daguku di bahunya. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang tiba-tiba. Lalu kutolehkan wajahku dengan posisi daguku di bahunya ke arah wajahnya. Memerah? Dia malu?

“wajahmu kenapa merah seperti itu?” aku memamerkan smirkku.

“ani!” dia mengaduk-aduk sereal di mangkuk.

“oh iya.”

“apa?” dia menolehkan wajahnya padaku setelah menyuap serealnya sebelum dibawa ke meja makan.

“aku belum mendapatkan morning kiss pertama darimu.” Ucapku dengan smirk yang menggoda.

Kudapati dia tersedak dengan kalimatku tadi. Apa yang salah?

“mwo?”

“chamkkam. Bibirmu.” Aku menyentuh bibirnya dan membersihkan susu yang ada di sekitar bibirnya dengan ibu jariku.

“YA!”

“ckckck. Morning kiss darimu yang pertama, bolehkah aku memintanya?”

Tak ada jawaban darinya. Ia  hendak mengangkat nampan yang diatasnya ada dua mangkuk merah berisi sereal itu, tapi kutahan tangannya. Aku menciumnya. Morning kiss pertamaku dengannya suk-ses!

Sookyung’s POV

“ckckck. Morning kiss darimu yang pertama, bolehkah aku memintanya?”

Aku malas menjawab pertanyaan konyol itu. Aku hendak mengangkat nampan yang diatasnya ada dua mangkuk merah berisi sereal itu, tapi tiba-tiba Donghae menahan tanganku erat. Ia menciumku! Aku sungguh terkejut! Ini kedua kalinya aku berciuman padanya. Entah kenapa aku memejamkan mataku. Rasanya, sungguh menyenangkan. Aku dulu pernah heran kenapa pasangan yang ada di drama-drama sanggup ‘beradu mulut’. Sekarang, aku baru mengerti, seperti inilah rasanya.

Morning kiss-ku dengannya sangat lama—bagiku,tidak baginya. Aku menghentikannya duluan. Aku takut kalau terlalu lama… aish jauhkan pikiran itu Choi Sookyung!

“kau, baru bangun kan? belum menggosok gigimu. Benar begitu?” tanyaku ketus.

Kulihat ia menaikkan sebelah alis matanya yang tebal. “kau juga kan? kau belum mandi juga kan?”

“Tapi aku sudah menggosok gigiku! Kau belum kan? dasar namja jorok!” aku berusaha untuk menghapus bekas ciuman itu dengan punggung tanganku.

“aish. Tapi kau menikmatinya kan? oh jadi kau belum mandi? Ayo kita mandi bersama!”

“Shireo! Dasar kau namja mesum!! Ah sudahlah! Gosok gigimu lalu makan sereal ini. Ppalli!”

Dia tertawa terbahak-bahak lalu langsung menuju ke kamar mandi. Akupun mengangkat nampan dan menaruhnya di atas meja makan mungil ini. Berbentuk persegi yang sisinya kurang dari satu meter.

****

“Wah, headline-news di koran-koran tentang penikahan kita semua! Daebak!” serunya sambil melihat koran-koran—yang kuletakkan di meja makan, setelah memakan habis sereal yang kubuat tanpa tersisa satu tetes susupun.

“ya! Kau terkenal sekarang, Lee Sookyung! HAHA”

“mwo? ya! aku ini terkenal jauh sebelum kau debut! Ara?” jawabku ketus.

“eh, tadi kau memanggilku apa? Hah?” lanjutku.

“eh? Hmm, Lee Sookyung maksudmu?”

“YA! jangan sembarangan mengganti nama orang lain!!”

“wae? Apa ada masalah? Ya! kau itu sekarang istriku! Is-tri-ku! Ara?”

“LEE DONGHAE!! AWAS KAU YA!!!”

Author’s POV

Sookyung sudah selesai mandi. Ia juga mencuci rambutnya yang panjang. Ketika mengeringkan tubuhnya dengan sehelai handuk di kamar mandi yang ada di kamarnya, ia lupa membawa pakaiannya. Ia balut tubuhnya itu dengan handuk diatas lututnya dan mendengar apakah ada Donghae di kamarnya.

“Sepi, baguslah.” Gumamnya dalam hati. Ia kemudian membuka pintu kamar mandi dan melihat Donghae yang sedang memakai baju. Donghae yang membelakangi Sookyung kaget ketika mendengar pekikan yang kencang dari Sookyung. Donghae menggerutu kesal pada Sookyung. Apa yang ia teriaki.

“YA! kau ini kenapa teriak-teriak??” celetuk Donghae setelah memakai kaos biru mudanya.

“kau tidak bilang-bilang masuk ke kamar!!! Aku kan jadi kaget!”

“Kenapa kau kaget? Bukankah kamar ini milik kita berdua?” tiba-tiba ide brilian muncul di otak Donghae. Iapun mendekati Sookyung yang tadinya jarak mereka dibatasi oleh ranjang king size. Sookyung yang resah dengan tubuhnya yang masih dibalut handuk mundur sebisanya.

“kau mau menggodaku ya?”

“ya! siapa yang ingin menggodamu? Kalau ada orang yang menggodamu pasti akan mati!”

“ya, kau akan mati. Karena aku telah tergoda padamu. Rambutmu yang basah, bibirmu yang mungil, dan…”  goda Donghae sambil mengelus rambut Sookyung dan menyentuh bibirnya.

“MWO? apalagi??!” jawab Sookyung terbata-bata.

“HAHA”

“YA!”

“tidak, tidak jadi.” Ia kemudian menjauh dari posisinya semula.

“sana cepat pakai bajumu. Nanti malam kita lanjutkan!”

“LEE DONGHAE!!!!”

“YA! sudah keduakalinya kau berteriak padaku seperti itu! dasar tidak sopan!”

****

“Sookyung-ah. sudah siap?”

“ne. Kajja~!” Sookyung menarik tangan Donghae dan duduk di mobil di kursi penumpang. Donghaepun duduk disebelahnya. Lalu menyetir mobil ke super market untuk membeli bahan-bahan makanan malam ini.

Sesampainya di super market, Sookyung tak sabar memborong makanan bersama suaminya. Ia mengambil troli yang cukup besar dan mendorongnya.

“kajja!” serunya. Donghae yang hanya memakai hoodie hijau mudanya dan jeans hitam menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya sangat semangat. Tapi di akhir, ia tersenyum lalu ikut menyusul Sookyung yang memakai jeans biru pensil dan hoodie biru tua.

“wah itu Lee Donghae? Wah bersama istrinya ya? istrinya beruntung sekali ya.”

“Omona! Itu Donghae oppa! oppa!!! oppa!! eh dia bersama adiknya Sooyoung eonni!”

“astaga! Itu Lee Donghae yang bermain drama dengan Shin Jiyun kan?”

Bisikan dan teriakan ahjumma-ahjumma dan anak pelajar membuat semangat Sookyung jadi menurun. Ia tak suka diperhatikan seperti ini. “Apa enaknya menikah dengan bocah ini? Menyebalkan!” gerutu Sookyung.

Donghae yang tersenyum bangga sambil merangkul istrinya itu dengan tangan kirinya. Tiba-tiba ia kesal mendengan Sookyung menggerutu seperti itu. “apa kau bilang? Bocah? Ya! aku ini lebih tua setahun darimu!”

Sookyung mendelik ke sampingnya dan mendongak sedikit karena Donghae lebih tinggi darinya. “kau bilang sendiri tak usah panggil kau oppa. ingat? Itu artinya aku sebaya denganmu! Babo!” kemudian ia terkekeh geli dan langsung mendorong troli belanjaannya dengan cepat.

“YA!”  Donghae mengejar Sookyung yang sudah meninggalkannya.

Pertama mereka mengambil sayur-mayur, buah-buahan, lalu mengambil minuman ringan seperti cola. Dan mengambil banyak snack. Kalian pasti tahu siapa yang memborong snack itu. siapalagi kalau bukan Sookyung. Dia benar-benar sudah tertular virus kakaknya. Setelah mengambil kebutuhan ‘pokok’ Sookyung, ia beralih ke tempat daging sapi segar.

“kau juga mau beli daging? Apa semua snack yang memenuhi troli ini tidak cukup buat makananmu seminggu?” celetuk Donghae sambil menggeleng-gelengkan badannya. Tak sanggup menghitung berapa snack yang diborong istrinya.

“Snack ini hanya untuk cemilan, kau juga bisa memakannya. Daging ini kebutuhan pokok kita. Arasseo?” seru Sookyung sambil mengangkat telunjuk kanannya tandanya mengingatkan. Sementara Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdeham mengerti.

Mata Donghae seakan-akan keluar dari tempatnya. Ia kaget ketika Sookyung meminta kepada ajusshi penjual daging untuk membungkus 3 kilogram daging.

“ya! untuk apa daging sebanyak itu??”

“untuk kebutuhan kita. Wae?”

Donghae yang mendengar ‘kebutuhan kita’ hendak tersenyum tapi ia harus mengontrol dirinya sendiri. Ia hanya menggeleng untuk kesekian kalinya.

Saat kebutuhan mereka sudah terpenuhi—lebih tepatnya kebutuhan Sookyung, Donghae menahan tangan Sookyung yang hendak mendorong troli itu ke kasir.

“wae?”

“chamkkam, temani aku membeli sesuatu.”

“membeli apa?”

“sudahlah ikuti aku saja.”

Setelah sampai di tempat tujuan Donghae, Sookyung menganga melihat tempat itu.

“ikan?”

“ya.”

“buat apa?”

“buat ku nikahi.”

“ne??”

“tentu saja untu ku beli! Babo~ya!”

“aish! Kau suka ikan?”

“ne.”

“pantas saja.”

“eh?”

“kau lihat itu” Sookyung menggerakkan tangannya ke arah ikan yang berada di atas meja dengan beberapa tumpukan batu es.

“kenapa dengan ikan itu?”

“kau mirip dengannya” jawab Sookyung polos—telunjuknya masih mengarah pada ikan itu.

“ya!” Donghae menjitak kepala Sookyung. Otomatis Sookyung langsung membalas jitakannya tak kalah ‘semangat’. Donghae meringis kesakitan.

“YA! memang benar! Lihat ikan itu, wajahnya mirip denganmu.”

“Neo! Appo!! dasar michin-yeoja. Wajah tampanku ini kau bandingkan dengan ikan monyong seperti itu? kalau fansku mendengarmu, aku yakin kau akan dihabisi oleh mereka.” Donghae melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sookyung hanya tertawa lalu menjitaki kepala suaminya ini—lagi.

“kau ini tidak sopan!! Menjitak kepala suamimu lagi? Kau minta dihukum ya?” goda Donghae sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sookyung.

“kau juga tidak sopan! Mendekati wajahmu padaku di tempat umum seperti ini. Di tempat umum seperti ini seharusnya kau jaga image-mu itu, babo~ya,”

Donghae menjauhkan dirinya dari Sookyung lalu merapikan hoodienya seolah olah ia sedang memakai jas.

“oh jadi kau minta di kamar? Baiklah.” Donghae membuat seringaian lebar di hadapan Sookyung. Donghae langsung mengalihkan pembicaraan pada Ajusshi penjual ikan.

“Ajusshi, aku minta ikan tuna 2 ekor.” Tak lama setelah meminta, Donghae menerima bungkusan ikan tuna segar.

“ja! Ayo kita bayar. Karena rata-rata kau yang memborong, kau yang mendorongnya sampai kasir.” Celetuk Donghae.

“mwo? aishh ne.”

****

“kau kan namja, ini angkat plastiknya. Beraaat!” teriak Sookyung saat mencoba mengangkat plastik-plastik belanjaannya tadi.

“shireo. Kau bawa sendiri.” Donghae berjalan medahului Sookyung. Tapi sebelum memasuki pintu gedung apartemen dari basement, ia mendengar suara teriakan Sookyung. Ia melihat plastik-plastik yang diisi semua belanjaan mereka terjatuh karena Sookyung tak kuat mengangkat plastik-plastik belanjaan mereka. Ia pun kembali lagi dan mengambil semua plastik itu dan membawanya.

“kau harus membayar semua pengorbananku nanti.” Seringaian yang menyunggingkan ujung bibir Donghae muncul. Lalu Sookyung yang kaget langsung mendelik ke wajah Donghae.

“kalau tidak ikhlas yasudah sini plastiknya!” Sookyung berusaha mengambil kembali plastik yang ada ditangan Donghae.

“eits! Barang yang sudah ada padaku tak boleh diambil lagi!” seru Donghae dalam lift menuju kamar mereka di lantai 12. Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift.

“sinii!!”

Sejurus kemudian Donghae mendorong Sookyung ke sisi kanan lift. Menguncinya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sookyung.

Teng… pintu Lift terbuka dan ada seseorang di depan lift. Sookyung langsung mendorong Donghae karena malu. Donghae pun juga jadi malu.

“Sookyung?”

Sookyung mendengar namanya dipanggil, yang memanggil Sookyung ternyata adalah Siwon, orang yang berdiri di depan lift saat ini.

“Siwon-ah. kau kenapa ada di sini?” tanya Sookyung yang masih malu-malu.

“ah, ani. Aku tadi ingin melihat keadaanmu di rumahmu. Tapi kata eomoni kau sudah pindah disini. Jadi aku kemari.” Jawabnya yang masih di depan lift.

Donghae yang mendengar kata Siwon menyebut nama eomma Sookyung ‘eomoni’ kaget. Bagaimana bisa ia memanggil eomma istrinya itu dengan kata itu? seberapa dekat Sookyung dengan Siwon?

“ah aku baik-baik saja. Kau lagi tidak sibuk ya?” tanya Sookyung dengan penuh senyum.

“iya, karena syuting drama baruku di Taiwan sudah selesai. Mau berlibur?” tawar Siwon dengan senyum mautnya.

Donghae semakin curiga dengan hubungan mereka berdua. Apakah ia tak dianggap dalam pembicaraan ini??

“ah? berlibur? Kita berdua saja?” tanya Sookyung sambil mendelik ke arah Donghae yang ada di samping kanannya.

“umm, keputusan ada padamu. Oh iya. aku pergi dulu ya. ada urusan mendadak. Jaljayo!” Siwon memasuki lift itu sementara Sookyung dan Donghae meninggalkan lift.

Saat dalam perjalanan menuju apartemen mereka, di lorong apartemen itu Donghae masih dilanda kebingungan.

“kau… ada hubungan apa dengan Choi Siwon?” tanyanya yang menahan beban yang tak ringan di kedua tangannya.

“hmmm, tidak ada apa-apa. Wae?”

“kelihatannya kau dekat sekali dengannya.”

“ah, dari dulu aku, Sooyoung eonni, dan Siwon adalah teman dekat. Sampai sekarang masih dekat. Kami seperti adik-kakak.” Jelas Sookyung sedikit berbohong. Padahal iya pernah menyukai Siwon.

“kau… pernah suka dengannya?”

“ne?” apa orang ini mempunya keahlian membaca pikiran orang? Batin Sookyung.

“jujur saja.” Donghae menekan password apartemennya. Ia mendengarkan jawaban Sookyung saat membuka pintu apartemennya.

“mwo?” Donghae berlari meletakkan plastik-plastik itu di dapur lalu kembali ke Sookyung yang sekarang duduk di sofa hijau mereka.

“pernah” ulang Sookyung.

“sampai sekarang?”

“entahlah.”

“kau, aku sudah pernah mengatakan padamu kemarin malam, aku menyukaimu.”

“itu bukan berarti cinta kan…,”

“ralat. Aku mencintaimu. Saranghae.” Potong Donghae.

“ne?” mata Sookyung mencari kejujuran dan ketulusan di mata coklat Donghae. Ia tak menemukan sedikitpun kebohongan dan kepaksaan dari ucapan yang ia dengar tadi. Ia merasa senang. Ternyata begini rasanya dicintai oleh namja yang kita cintai juga, pikirnya.

“ne. Saranghae, Lee Sookyung.” Donghae mendekatkan wajahnya pada wajah Sookyung. Sookyungpun terbawa suasana dan memejamkan matanya yang berlinang air mata karena perasaan terharu, senang yang memenuhi hatinya. Saat bibir Donghae menyentuh bibir mungil Sookyung, Sookyung merasa ciuman kali ini tulus, tidak ada paksaan sama sekali, karena Sookyung tidak merasa dipaksakan, tak seperti tadi pagi. Donghae pun memperdalam ciuman mereka. Ia menurunkan pelan pelan Sookyung dari duduknya menjadi terbaring di sofa hijau itu. semakin lama semakin memperdalam ciumannya yang penuh nafsu itu. ia kemudian mulai meraba pelan perut datar Sookyung dan hendak membuka kaos putih yang dikenakan oleh Sookyung, tiba-tiba tangan Sookyung menghentikan gerakan tangan suaminya itu.

“chamkkam,”

“tunggu apa lagi?”

“aku…”

“mwonde?”

“aku… mohon jangan sekarang.”

“kau kenapaa?” jawab Donghae frustasi.

“ah aku…”

“wae geuraee?” serunya frustasi.

“aku tidak nyaman di sini.”

“ne?” jawabannya membuat Donghae kaget tapi senang.

“jangan di sini.”

Donghae mengeluarkan seringaiannya dan mengangkat tubuh Sookyung dan membawanya ke ranjang mereka.

****

Kedinginan membangunkan Sookyung dari tidurnya. Ia melihat tubuhnya yang polos, tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. Lalu ia memakaikan selimutnya ke Donghae juga dirinya. Entah mengapa semenjak kejadian tadi malam, Sookyung menjadi tambah sayang dan cinta pada Donghae. Apa ini karena efek ‘itu’? rasanya jadi tak mau ditinggal olehnya lama lama. Ingin selalu mendapatkan ciuman dari suaminya. Kenapa aku jadi yadong begini? Pikirnya.

Ia memperhatikan wajah Donghae yang berhadapan dengannya. Rasanya ingin menciumnya! Gumam Sookyung. Mengacak rambut Donghae dan menyentuh senti demi senti wajah Donghae dengan telunjuknya. Ia menyentuh bibir tipis suaminya. Sookyung tak dapat menahan ‘kebutuhan’nya lagi. Ia langsung mencium bibir suaminya kilat. Karena takut Donghae terbangun. Lalu ia mengambil ponselnya di nakas dan membidik gambar Donghae saat itu. neomu kwieopta!

Lalu ia membidik dirinya dengan Donghae yang sedang tertidur. Ia tak mau kehilangan moment terindah sepanjang hidupnya ini.

-TBC-

MIAAAAN BANYAK YADONGNYA X_X

Maklum sepasang sejoli yang abis menikah X_X MIANHAEYO X_X

Comment ya pliis. Gomawoyo!

Advertisements

One thought on “Just For You [Part 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s